Rabu, 04 Januari 2012

Pesan di balik iklan


Like this yo. Masih ingat dengan iklan salah satu layanan operator di TV belakangan ini? ya, kisahnya tentang dua orang (kampung) yang datang ke Jakarta. Salah satu temannya mengatakan bahwa mereka tidak kenal siapa-siapa di sana, namun entah bagaimana satu temannya yang lain bisa saling kenal dengan beberapa orang di jalan (orang yang nongkrong, di bajaj yang sedang lewat sampai tukang soto). Jawabannya ternyata mereka adalah teman jejaring sosialnya di facebook. Dengan layanan operator itu, maka dia bisa berkomunikasi dan berkenalan dengan banyak orang secara cepat, mudah dan murah.
Tapi tahukah kita bahwa iklan itu sarat dengan pesan komunikasi yang bias fisik yang mengarahkan penontonnya pada paradigma dan nilai yang ingin mereka (si pembuat iklan) tentukan. Mengapa salah satu dari dua orang yang tidak kenal siapa-siapa dalam iklan itu (yang harus bayar 30 ribu sedangkan temannya yang satu lagi gratis) harus ditampilkan dengan bentuk fisik seorang perempuan gemuk? Mengapa temannya satu lagi yang mempunyai banyak kenalan itu melalui jejaring sosial yang difungsikan oleh layanan operator iklan itu harus ditampilkan dengan sosok perempuan – meski tidak begitu cantik – berbadan langsing?
Terlepas dari tujuan komersial si pembuat iklan, tafsiran gambaran dua orang itu ingin mengatakan pada kita (khususnya kaum perempuan) bahwa menjadi perempuan gendut itu tidak akan punya banyak teman atau kenalan, inferior, dan tidak berterima dengan nilai sosial (yang ada). Sebaliknya, jika anda adalah perempuan langsing, maka anda tidak akan kesulitan mendapatkan teman (tanpa harus melalui jejaring sosial sekalipun). Inilah paradigma yang sedang dipaksakan pada kita. Sepintas memang kita sedikit menyetujui paradigma itu dengan tolak ukur mata kita. Tapi kenyataan yang ada dua sosok itu hadir di antara kita dan kita lihat bagaimana masyarakat kita (dengan segala keterbatasan yang ada) menyerah pada paradigma itu dan (juga) bagaimana kita secara tidak sadar melegalkannya melalui hubungan sosial kita dengan orang lain yang bentuk fisiknya berbeda-beda.
Saya bukanlah penganut paham feminisme, ideologi keperempuanan, atau yang sejenisnya. Tapi saya hanya berharap masyarakat kita dapat cukup cerdas untuk mengkritisi sebuah iklan komersial yang memaparkan sebuah nilai pesan tersembunyi ketimbang hanya sekedar menikmati produk iklan yang disuguhkan tanpa menyadari bahwa kita sebenarnya menyepakati sebuah paradigma hidup yang salah.

   

Try to Believe


Yes, that is what I’d like to share with you in this column. “Try to believe” is sometimes easy to talk but hard to do. So many considerations that the feeling of anxiety or maybe overreacted worries to our children make us so feel stressed, at least, that what I know. It can be referred to any kind we consider it as teacher; try to believe yourself, your skills, your experience, your method, your confidence, and your students. The last mentioned is what I want to share with you.
When you have been teaching for at least one year, you can measure your teaching method and style so far for the best or the worst ones, for your students especially. That if you can measure yourself. But sometimes it is not enough. A new improvised method of teaching is hardly assured to be applied for them coz we are worried that our students can’t follow what we have patterned in teaching points design. Is it too high or too low? I can guarantee that every teacher has “grey zone” students. It doesn’t mean negative, but he just tries to help in a given particular ability, while the objectives that he has to reach is beyond that capacity. What should he do? Yes, it is rather complicated.
The solution is maybe back to us. Some of us maybe will not fasten the progress indicators, of course not in the same way for every teacher. But why don’t we believe them? Believe that they can, or even they can be more knowledgeable than us? They have trusted you to be their teacher and now the time for you to do in return.
I have experienced it that I try to give some materials in high progress and the students should make a research for it then present it. Truly I have so quite few information about the material that I have to be the first exemplary before them. My only capital is just my trust in them that they can and they will master it. Alhamdullillah, it worked. They are so enthusiastic in presenting the material. In fact, they give me new information that I don’t know before. It’s so grateful. Moreover, I feel more confident that my students are more well-informed than me. Remember, a success teacher is a person who can make his student better than him (remember Tai Long story in Kungfu Panda?). So, it is just between you and me, whether you agree or not, if you try to believe them, they will believe you too, and it definitely happens. (Arafah) 

Senin, 19 Desember 2011

GRAMMAR IS EASY!


“How to make a sentence”
Sebetulnya penulis ingin membuat artikel ini dalam versi bahasa Inggrisnya. Namun untuk kepentingan pemahaman yang lebih mendalam, penulis memutuskan untuk menuliskannya dalam versi Bahasa. ^^
Grammar masih menjadi “monster” bagi kebanyakan anak didik kita yang duduk di bangku kelas menengah. Bagaimana tidak, selain karena tuntutan akademik yang memang sudah tercanangkan dalam silabus pendidikan kita, mereka akan menjumpainya dalam Ujian Nasional nanti di kelas 3. Tapi ada faktor ketiga yang lebih penting; grammar sudah harus menjadi alat siap guna dalam berkomunikasi bagi anak didik kita, tidak hanya dalam ranah percakapan, namun juga dalam segi penulisan atau essai. Tidak dapat dipungkiri bahwa grammar adalah tulang punggung tata bahasa Inggris yang baik dan berterima secara umum dan formal. Pendek kata, untuk dapat berbahasa Inggris yang baik, maka kita pun harus menguasai Grammar dengan baik pula.
Ketakutan acapkali bermula dari keruwetan tata struktur dan rumus yang mesti dihafal. Dari segi itu semata, maka ketakutan mereka dapat diterima. Namun untuk semua bahasa di dunia – baik itu bahasa Perancis, Jerman, Jepang, Korea atau bahkan bahasa Indonesia sekalipun, masalah “keruwetan” itu akan tetap muncul. Tapi ada kabar gembiranya. Seberat-beratnya beban dalam menguasai gramatikal Bahasa Inggris, tapi jika disampaikan dengan strategi yang mudah dipahami – dengan sedikit mengesampingkan unsur-unsur kecil lainnya untuk kepentingan pemahaman yang lebih cepat, maka mereka yang selalu mengatakan “grammar is hard” akan mengubah pernyataan mereka menjadi “grammar is easy”.  

The Most Influential Persons in Islamic World


Khadijah R.A
(555-619)

  
I
a adalah perempuan yang paling utama dalam sejarah Islam. Ia adalah perempuan yang pertama masuk Islam, yang pertama membenarkan wahyu Allah ketika turun kepada Nabi Muhammad s.a.w di Gura Hira; ia termasuk orang-orang pertama yang membantu dan memperjuangkan dakwah Rasullullah serta menjadi penghibur ketika Nabi menghadapi masa-masa sulit di awal dakwahnya di kota Mekah. Ia pun merupakan satu-satunya istri yang paling dicintai Nabi dan juga satu-satunya istri Nabi yang melahirkan keturunan - selain Maria Qibtiyah - bagi sang Nabi. Ia adalah Khadijah binti Khuwailid r.a.
          Khadijah berasal dari Bani Asad[1] dalam lingkup kabilah Quraisy Makkah. Nasab nenek moyangnya bertemu dengan Qusay, kakek buyut Rasulullah dari garis Abdu Manaf[2]. Perempuan luar biasa ini adalah seorang saudagar perempuan yang mulia dan terhormat serta kaya raya. Setahun sekali, kafilah miliknya bertandang ke Syam[3] dan pada umumnya meraih sukses yang besar. Khadijah sebenarnya telah mengetahui sosok Muhammad ibn Abdullah yang terkenal jujur, berakhlak saleh dan digelari al Amin (dapat dipercaya) itu jauh sebelum Beliau bekerja untuknya. Selain itu paman dan kakek beliau adalah orang terpandang di kota Mekkah.
                 Muhammad ketika itu, sebagaimana pemuda Quraisy lainnya, mencari nafkah dengan berdagang. Namun disebabkan paman yang mengasuhnya, Abu Thalib, kelewat miskin, Beliau akhirnya menawarkan diri untuk bekerja pada Khadijah. Apalagi, Khadijah, yang baik di masa Jahiliyah bergelar at Thahirah (perempuan yang selalu memelihara dirinya) dan Sayyidah Quraisy ini, cukup terkenal sebagai perempuan yang sangat cakap dalam hal perdagangan. Khadijah lalu mempercayakan Beliau untuk memimpin satu khafilah ke Syam. Dan betapa terkejutnya Khadijah, rombongan yang dipimpin pemuda ini, meski baru pertama kali, namun telah meraup keuntungan yang lebih besar dari biasanya. Semua barang dagangannya habis terjual, sehingga keuntungannya menjadi berlipat ganda. Kekagumannya tak berhenti di situ. Dari laporan seorang sahaya yang diutusnya untuk mengawasi jalannya perdagangan mengatakan, “betapa orang ini (Muhammad) memiliki karisma. Dia (Muhammad) berdagang dengan jujur, penuh semangat, pantang menyerah dan sikapnya yang berbudi luhur menarik banyak para pembeli.”

Kisah sebuah Kaos


Kau tidak akan tahu betapa hebatnya kisah ini. Tapi sebelumnya aku beritahu bahwa semua ide ini seluruhnya bukan berasal dariku, dari seseorang yang seharusnya melakukan itu karena kecintaannya yang besar kepada Oleander 09.
   Inilah foto resmi mereka (setidaknya ini yang terbaik) ketika mereka dan aku membuat janji akan memakai kaos itu di sekolah. Tepatnya pada tanggal 21 Januari 2011. Ah, ingin sekali aku menjadikan itu sebagai hari peringatan kita bersama. Tanggal 21 Januari, adalah Hari Oleander! Ya, pada awalnya ada begitu banyak semangat dan rasa yang tidak menentu ketika kaos-kaos itu melekat pada kami, terutama pada anak alumni kelas sebelah yang tidak punya kekompakan seperti itu. sebetulnya bukan salah kami dan salah mereka; aku sudah berusaha menghilangkan kecemburuan itu, tapi mereka tidak mau. Ya sudah lah. Hanya saja sebetulnya rasa tidak nyaman itu tidak terlalu kuindahkan saat kami berfoto ria di depan teras kampus 3.
Oh, sudahlah tentang nostalgianya. Sekarang kita akan beralih pada sejarah kaos itu sendiri yang dengan bangga aku anggap sebagai mahakarya, sebuah kenang-kenangan yang tidak bisa dibeli oleh apapun. Tapi sebelumnya, cerita ini dimulai oleh satu orang yang sangat luar biasa yang pada awalnya menawarkanku ide itu. Ialah Muti yang pertama kali membuat gagasan ini (setidaknya itu yang aku tahu). Ia berkata bahwa bagaimana jika kita membuat kaos alumni Oleander? Aku sedikit bingung karena mereka sekarang sudah kelas 6 dan keanggotaan mereka sudah tercampur di kelas mereka yang baru. Namun melihat kegigihannya, dan juga peluang bahwa ia memiliki kenalan di sebuah produksi kaos, aku memutuskan untuk mendukungnya. Pada awalnya semua tampak gamang, dan beberapa tidak terlalu antusias namun sambutannya tetap hangat. Baik mereka yang ada di Raflessia maupun di Allamanda sedikit menantikan apakah proyek ini akan berhasil. Aku sudah meyakinkan Muti bahwa aku akan membuat itu berhasil dan memang itu terjadi!

Selasa, 13 Desember 2011

Beloved Bestfriend

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya.


Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti air mengikis batu, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka – duka, dihibur – disakiti, diperhatikan – dikecewakan, didengar – diabaikan, dibantu – ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.


Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.