Senin, 19 Desember 2011

Kisah sebuah Kaos


Kau tidak akan tahu betapa hebatnya kisah ini. Tapi sebelumnya aku beritahu bahwa semua ide ini seluruhnya bukan berasal dariku, dari seseorang yang seharusnya melakukan itu karena kecintaannya yang besar kepada Oleander 09.
   Inilah foto resmi mereka (setidaknya ini yang terbaik) ketika mereka dan aku membuat janji akan memakai kaos itu di sekolah. Tepatnya pada tanggal 21 Januari 2011. Ah, ingin sekali aku menjadikan itu sebagai hari peringatan kita bersama. Tanggal 21 Januari, adalah Hari Oleander! Ya, pada awalnya ada begitu banyak semangat dan rasa yang tidak menentu ketika kaos-kaos itu melekat pada kami, terutama pada anak alumni kelas sebelah yang tidak punya kekompakan seperti itu. sebetulnya bukan salah kami dan salah mereka; aku sudah berusaha menghilangkan kecemburuan itu, tapi mereka tidak mau. Ya sudah lah. Hanya saja sebetulnya rasa tidak nyaman itu tidak terlalu kuindahkan saat kami berfoto ria di depan teras kampus 3.
Oh, sudahlah tentang nostalgianya. Sekarang kita akan beralih pada sejarah kaos itu sendiri yang dengan bangga aku anggap sebagai mahakarya, sebuah kenang-kenangan yang tidak bisa dibeli oleh apapun. Tapi sebelumnya, cerita ini dimulai oleh satu orang yang sangat luar biasa yang pada awalnya menawarkanku ide itu. Ialah Muti yang pertama kali membuat gagasan ini (setidaknya itu yang aku tahu). Ia berkata bahwa bagaimana jika kita membuat kaos alumni Oleander? Aku sedikit bingung karena mereka sekarang sudah kelas 6 dan keanggotaan mereka sudah tercampur di kelas mereka yang baru. Namun melihat kegigihannya, dan juga peluang bahwa ia memiliki kenalan di sebuah produksi kaos, aku memutuskan untuk mendukungnya. Pada awalnya semua tampak gamang, dan beberapa tidak terlalu antusias namun sambutannya tetap hangat. Baik mereka yang ada di Raflessia maupun di Allamanda sedikit menantikan apakah proyek ini akan berhasil. Aku sudah meyakinkan Muti bahwa aku akan membuat itu berhasil dan memang itu terjadi!
Muti hanya memberiku sedikit konsep. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Jadi sebetulnya, yang mendesain kaos itu adalah Muti, dengan sedikit modifikasi dariku dan saran dari kenalannya di C59, Nuri. Tapi kemudian muncul ide untuk membuat logo. Aku terus terang meski pandai menggambar aku kurang bisa membuat konsep gambar. Akhirnya aku membuat sayembara kepada anak-anak Ole yang pandai menggambar seperti Daffa Mp dan Qisti untuk membuatkan sebuah konsep logo untuk alumni Oleander 09. Jadilah beberapa pilihan gambar yang bagus-bagus. Aku tawarkan kembali pada mereka untuk melakukan pemilihan. Bukan pekerjaan yang mudah. Perdebatanpun tak terhindarkan sampai hanya untuk memilih logo pun, menghambat sekitar 2 mingguan. Tapi akhirnya secara aklamasi, logo buatan Qisti lah yang terpilih. Dan tak hanya itu. pemilihan warna dasar pun sempat membuatku frustasi karena ketidaksepakatan mereka dalam menentukan satu warna dasar menghabiskan sampai sekitar dua mingguan lagi, meski warna biru ditetapkan.
           Setelah itu beres, kami tinggal memikirkan tulisan Oleandernya. Aku berusaha membuat tapi tetap tidak bagus hingga tanpa sengaja dan tampaknya berawal dari keacuhan, Icha membuat guratan yang cukup bagus. Saat itu tidak terlalu kentara tapi karena tidak ada lagi dan mengejar tenggat waktu (kaos itu harus selesai sebelum libur semester II), aku anggap itu format tulisan resmi yang paling bagus. Desain pun keluar. Dan pemilihan kali ini tidak terlalu sulit, tinggal mencari pemenuhan kuota, karena jumlah anak Ole sedikit dan jumlah yang ditentukan C59 dikisaran 25 orang ke atas. Aku pun berusaha membujuk guru-guru lain yang pernah mengajar mereka di kelas 5 dulu untuk ikut. Harganya memang agak mahal karena kita membuat di bawah kuota resmi. Aku juga membuat surat untuk menggalang dana pada orang tua mereka. Untunglah jumlah guru yang ikut pun banyak sehingga kuota terpenuhi. Hanya saja sayang Bu Feni tidak mau ikut padahal aku berharap dia mau karena dia adalah koordinatorku dulu. Voila! Segalanya berjalan sebagaimana yang kita harapkan.
Dari kisah ini, sebetulnya aku sangat berterima kasih pada ketiga orang siswiku, yaitu Muti si penggagas dan desainer, Qisti sang pembuat logo dan Icha yang membuat format tulisan resmi Oleander yang meski awalnya tampak asal-asalan tapi setelah diterapkan ternyata bagus sekali. Ini tentu saja berkat bantuan dari Nuri yang bisa merealisasikan segala konsep kami. Tapi yang jelas, proyek kaos alumni ini tidak akan pernah terjadi tanpa adanya kontribusi mereka. Aku sangat senang dan bangga bahwa aku mempunyai kenangan yang tak lekang waktu. Sebagai pengingat yang manis kepada anak-anakku Oleander 09 yang sangat kucintai. Mengatakan pada dunia bahwa aku pernah menjadi bagian dari sejarah mereka, dengan mencantumkan namaku bersama mereka di atas ukiran panggung berhuruf putih dalam lautan biru. Dan inilah mahakarya itu!










Tidak ada komentar:

Posting Komentar