Like this yo. Masih ingat dengan iklan salah satu layanan
operator di TV belakangan ini? ya, kisahnya tentang dua orang (kampung) yang
datang ke Jakarta. Salah satu temannya mengatakan bahwa mereka tidak kenal
siapa-siapa di sana, namun entah bagaimana satu temannya yang lain bisa saling
kenal dengan beberapa orang di jalan (orang yang nongkrong, di bajaj yang
sedang lewat sampai tukang soto). Jawabannya ternyata mereka adalah teman
jejaring sosialnya di facebook. Dengan layanan operator itu, maka dia bisa
berkomunikasi dan berkenalan dengan banyak orang secara cepat, mudah dan murah.
Tapi tahukah kita bahwa iklan itu sarat dengan pesan
komunikasi yang bias fisik yang mengarahkan penontonnya pada paradigma dan nilai
yang ingin mereka (si pembuat iklan) tentukan. Mengapa salah satu dari dua
orang yang tidak kenal siapa-siapa dalam iklan itu (yang harus bayar 30 ribu
sedangkan temannya yang satu lagi gratis) harus ditampilkan dengan bentuk fisik
seorang perempuan gemuk? Mengapa temannya satu lagi yang mempunyai banyak
kenalan itu melalui jejaring sosial yang difungsikan oleh layanan operator
iklan itu harus ditampilkan dengan sosok perempuan – meski tidak begitu cantik
– berbadan langsing?
Terlepas dari tujuan komersial si pembuat iklan, tafsiran
gambaran dua orang itu ingin mengatakan pada kita (khususnya kaum perempuan)
bahwa menjadi perempuan gendut itu tidak akan punya banyak teman atau kenalan, inferior,
dan tidak berterima dengan nilai sosial (yang ada). Sebaliknya, jika anda
adalah perempuan langsing, maka anda tidak akan kesulitan mendapatkan teman (tanpa
harus melalui jejaring sosial sekalipun). Inilah paradigma yang sedang
dipaksakan pada kita. Sepintas memang kita sedikit menyetujui paradigma itu
dengan tolak ukur mata kita. Tapi kenyataan yang ada dua sosok itu hadir di
antara kita dan kita lihat bagaimana masyarakat kita (dengan segala
keterbatasan yang ada) menyerah pada paradigma itu dan (juga) bagaimana kita
secara tidak sadar melegalkannya melalui hubungan sosial kita dengan orang lain
yang bentuk fisiknya berbeda-beda.
Saya bukanlah penganut paham feminisme, ideologi
keperempuanan, atau yang sejenisnya. Tapi saya hanya berharap masyarakat kita
dapat cukup cerdas untuk mengkritisi sebuah iklan komersial yang memaparkan
sebuah nilai pesan tersembunyi ketimbang hanya sekedar menikmati produk iklan
yang disuguhkan tanpa menyadari bahwa kita sebenarnya menyepakati sebuah
paradigma hidup yang salah.
