Senin, 19 Desember 2011

GRAMMAR IS EASY!


“How to make a sentence”
Sebetulnya penulis ingin membuat artikel ini dalam versi bahasa Inggrisnya. Namun untuk kepentingan pemahaman yang lebih mendalam, penulis memutuskan untuk menuliskannya dalam versi Bahasa. ^^
Grammar masih menjadi “monster” bagi kebanyakan anak didik kita yang duduk di bangku kelas menengah. Bagaimana tidak, selain karena tuntutan akademik yang memang sudah tercanangkan dalam silabus pendidikan kita, mereka akan menjumpainya dalam Ujian Nasional nanti di kelas 3. Tapi ada faktor ketiga yang lebih penting; grammar sudah harus menjadi alat siap guna dalam berkomunikasi bagi anak didik kita, tidak hanya dalam ranah percakapan, namun juga dalam segi penulisan atau essai. Tidak dapat dipungkiri bahwa grammar adalah tulang punggung tata bahasa Inggris yang baik dan berterima secara umum dan formal. Pendek kata, untuk dapat berbahasa Inggris yang baik, maka kita pun harus menguasai Grammar dengan baik pula.
Ketakutan acapkali bermula dari keruwetan tata struktur dan rumus yang mesti dihafal. Dari segi itu semata, maka ketakutan mereka dapat diterima. Namun untuk semua bahasa di dunia – baik itu bahasa Perancis, Jerman, Jepang, Korea atau bahkan bahasa Indonesia sekalipun, masalah “keruwetan” itu akan tetap muncul. Tapi ada kabar gembiranya. Seberat-beratnya beban dalam menguasai gramatikal Bahasa Inggris, tapi jika disampaikan dengan strategi yang mudah dipahami – dengan sedikit mengesampingkan unsur-unsur kecil lainnya untuk kepentingan pemahaman yang lebih cepat, maka mereka yang selalu mengatakan “grammar is hard” akan mengubah pernyataan mereka menjadi “grammar is easy”.  

The Most Influential Persons in Islamic World


Khadijah R.A
(555-619)

  
I
a adalah perempuan yang paling utama dalam sejarah Islam. Ia adalah perempuan yang pertama masuk Islam, yang pertama membenarkan wahyu Allah ketika turun kepada Nabi Muhammad s.a.w di Gura Hira; ia termasuk orang-orang pertama yang membantu dan memperjuangkan dakwah Rasullullah serta menjadi penghibur ketika Nabi menghadapi masa-masa sulit di awal dakwahnya di kota Mekah. Ia pun merupakan satu-satunya istri yang paling dicintai Nabi dan juga satu-satunya istri Nabi yang melahirkan keturunan - selain Maria Qibtiyah - bagi sang Nabi. Ia adalah Khadijah binti Khuwailid r.a.
          Khadijah berasal dari Bani Asad[1] dalam lingkup kabilah Quraisy Makkah. Nasab nenek moyangnya bertemu dengan Qusay, kakek buyut Rasulullah dari garis Abdu Manaf[2]. Perempuan luar biasa ini adalah seorang saudagar perempuan yang mulia dan terhormat serta kaya raya. Setahun sekali, kafilah miliknya bertandang ke Syam[3] dan pada umumnya meraih sukses yang besar. Khadijah sebenarnya telah mengetahui sosok Muhammad ibn Abdullah yang terkenal jujur, berakhlak saleh dan digelari al Amin (dapat dipercaya) itu jauh sebelum Beliau bekerja untuknya. Selain itu paman dan kakek beliau adalah orang terpandang di kota Mekkah.
                 Muhammad ketika itu, sebagaimana pemuda Quraisy lainnya, mencari nafkah dengan berdagang. Namun disebabkan paman yang mengasuhnya, Abu Thalib, kelewat miskin, Beliau akhirnya menawarkan diri untuk bekerja pada Khadijah. Apalagi, Khadijah, yang baik di masa Jahiliyah bergelar at Thahirah (perempuan yang selalu memelihara dirinya) dan Sayyidah Quraisy ini, cukup terkenal sebagai perempuan yang sangat cakap dalam hal perdagangan. Khadijah lalu mempercayakan Beliau untuk memimpin satu khafilah ke Syam. Dan betapa terkejutnya Khadijah, rombongan yang dipimpin pemuda ini, meski baru pertama kali, namun telah meraup keuntungan yang lebih besar dari biasanya. Semua barang dagangannya habis terjual, sehingga keuntungannya menjadi berlipat ganda. Kekagumannya tak berhenti di situ. Dari laporan seorang sahaya yang diutusnya untuk mengawasi jalannya perdagangan mengatakan, “betapa orang ini (Muhammad) memiliki karisma. Dia (Muhammad) berdagang dengan jujur, penuh semangat, pantang menyerah dan sikapnya yang berbudi luhur menarik banyak para pembeli.”

Kisah sebuah Kaos


Kau tidak akan tahu betapa hebatnya kisah ini. Tapi sebelumnya aku beritahu bahwa semua ide ini seluruhnya bukan berasal dariku, dari seseorang yang seharusnya melakukan itu karena kecintaannya yang besar kepada Oleander 09.
   Inilah foto resmi mereka (setidaknya ini yang terbaik) ketika mereka dan aku membuat janji akan memakai kaos itu di sekolah. Tepatnya pada tanggal 21 Januari 2011. Ah, ingin sekali aku menjadikan itu sebagai hari peringatan kita bersama. Tanggal 21 Januari, adalah Hari Oleander! Ya, pada awalnya ada begitu banyak semangat dan rasa yang tidak menentu ketika kaos-kaos itu melekat pada kami, terutama pada anak alumni kelas sebelah yang tidak punya kekompakan seperti itu. sebetulnya bukan salah kami dan salah mereka; aku sudah berusaha menghilangkan kecemburuan itu, tapi mereka tidak mau. Ya sudah lah. Hanya saja sebetulnya rasa tidak nyaman itu tidak terlalu kuindahkan saat kami berfoto ria di depan teras kampus 3.
Oh, sudahlah tentang nostalgianya. Sekarang kita akan beralih pada sejarah kaos itu sendiri yang dengan bangga aku anggap sebagai mahakarya, sebuah kenang-kenangan yang tidak bisa dibeli oleh apapun. Tapi sebelumnya, cerita ini dimulai oleh satu orang yang sangat luar biasa yang pada awalnya menawarkanku ide itu. Ialah Muti yang pertama kali membuat gagasan ini (setidaknya itu yang aku tahu). Ia berkata bahwa bagaimana jika kita membuat kaos alumni Oleander? Aku sedikit bingung karena mereka sekarang sudah kelas 6 dan keanggotaan mereka sudah tercampur di kelas mereka yang baru. Namun melihat kegigihannya, dan juga peluang bahwa ia memiliki kenalan di sebuah produksi kaos, aku memutuskan untuk mendukungnya. Pada awalnya semua tampak gamang, dan beberapa tidak terlalu antusias namun sambutannya tetap hangat. Baik mereka yang ada di Raflessia maupun di Allamanda sedikit menantikan apakah proyek ini akan berhasil. Aku sudah meyakinkan Muti bahwa aku akan membuat itu berhasil dan memang itu terjadi!

Selasa, 13 Desember 2011

Beloved Bestfriend

Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya.


Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti air mengikis batu, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka – duka, dihibur – disakiti, diperhatikan – dikecewakan, didengar – diabaikan, dibantu – ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.


Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.