Senin, 19 Desember 2011

The Most Influential Persons in Islamic World


Khadijah R.A
(555-619)

  
I
a adalah perempuan yang paling utama dalam sejarah Islam. Ia adalah perempuan yang pertama masuk Islam, yang pertama membenarkan wahyu Allah ketika turun kepada Nabi Muhammad s.a.w di Gura Hira; ia termasuk orang-orang pertama yang membantu dan memperjuangkan dakwah Rasullullah serta menjadi penghibur ketika Nabi menghadapi masa-masa sulit di awal dakwahnya di kota Mekah. Ia pun merupakan satu-satunya istri yang paling dicintai Nabi dan juga satu-satunya istri Nabi yang melahirkan keturunan - selain Maria Qibtiyah - bagi sang Nabi. Ia adalah Khadijah binti Khuwailid r.a.
          Khadijah berasal dari Bani Asad[1] dalam lingkup kabilah Quraisy Makkah. Nasab nenek moyangnya bertemu dengan Qusay, kakek buyut Rasulullah dari garis Abdu Manaf[2]. Perempuan luar biasa ini adalah seorang saudagar perempuan yang mulia dan terhormat serta kaya raya. Setahun sekali, kafilah miliknya bertandang ke Syam[3] dan pada umumnya meraih sukses yang besar. Khadijah sebenarnya telah mengetahui sosok Muhammad ibn Abdullah yang terkenal jujur, berakhlak saleh dan digelari al Amin (dapat dipercaya) itu jauh sebelum Beliau bekerja untuknya. Selain itu paman dan kakek beliau adalah orang terpandang di kota Mekkah.
                 Muhammad ketika itu, sebagaimana pemuda Quraisy lainnya, mencari nafkah dengan berdagang. Namun disebabkan paman yang mengasuhnya, Abu Thalib, kelewat miskin, Beliau akhirnya menawarkan diri untuk bekerja pada Khadijah. Apalagi, Khadijah, yang baik di masa Jahiliyah bergelar at Thahirah (perempuan yang selalu memelihara dirinya) dan Sayyidah Quraisy ini, cukup terkenal sebagai perempuan yang sangat cakap dalam hal perdagangan. Khadijah lalu mempercayakan Beliau untuk memimpin satu khafilah ke Syam. Dan betapa terkejutnya Khadijah, rombongan yang dipimpin pemuda ini, meski baru pertama kali, namun telah meraup keuntungan yang lebih besar dari biasanya. Semua barang dagangannya habis terjual, sehingga keuntungannya menjadi berlipat ganda. Kekagumannya tak berhenti di situ. Dari laporan seorang sahaya yang diutusnya untuk mengawasi jalannya perdagangan mengatakan, “betapa orang ini (Muhammad) memiliki karisma. Dia (Muhammad) berdagang dengan jujur, penuh semangat, pantang menyerah dan sikapnya yang berbudi luhur menarik banyak para pembeli.”

  Khadijah semakin terpesona oleh kepribadian Muhammad. Ia yang mulanya hanya sekedar percaya terhadap Beliau perlahan-lahan menaruh hormat dan kagum padanya hingga akhirnya jatuh cinta. Ia merasa telah menemukan sesuatu pada diri Muhammad yang tidak ada pada pemuda-pemuda Quraisy lainnya Ia merasakan sebuah cinta kasih yang luhur. Diam-diam, Muhammad pun terkesan dengan sifat dan kepribadian Sayyidah Quraisy ini. Setelah mempertimbangkan. masak-masak, Khadijah akhirnya mengajukan lamaran kepada keluarga Beliau melalui perantara. Saat itu usia Beliau 25 tahun dan Khadijah 40 tahun (sebelumnya Khadijah telah menikah dua kali). Tak lama berselang, diadakanlah acara pernikahan yang meriah dan keduanya amat berbahagia. Rasulullah begitu mencintai istrinya Khadijah. Selama Khadijah masih hidup, Rasulullah tidak pernah menikah dengan perempuan lain (monogami)[4] dan darinya, Rasulullah dikaruniai enam anak, Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummu Kultsum, dan Fathimah (kedua anak laki-laki Beliau ini meninggal semua ketika masih kanak-kanak dan hanya keempat putrinya yang tumbuh dewasa). Namun sebelum datangnya masa Bi’tsah, Khadijah tidak menampak sedikitpun bahwa suaminya akan menjadi manusia paling agung di dunia.
 Khadijah terbukti menjadi pendamping terbaik Rasullullah. Ketika Allah mengutus Jibril mendeklarasikan kenabiannya di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan 622, ia lah yang menghibur Beliau ketika ketakutan dan khawatir telah didatangi oleh syetan yang telah memaksanya mengulang kata-kata yang didengarnya. Beliau minta diselimuti. Pada saat itulah dengan yakin Khadijah berkata bahwa itu pastilah bukan syetan. “bagaimana mungkin syetan akan mengganggumu, padahal Engkaulah yang selalu menyambung tali silaturahmi, memikul beban orang lain, mengusahakan sesuatu yang belum ada, dan senantiasa membela kebenaran?”[5] Ucapannya ini sungguh menenangkan Beliau. Biasanya orang yang mengaku-aku didatangi makhluk gaib seperti itu dianggap sebagai seorang kahin (dukun) atau majnun[6]. Tapi tidak dengannya. Ia bahkan mencari informasi dan menanyakan pamannya, Waraqah ibn Naufal, yang pandai membaca dan mempelajari al Kitab dalam bahasa Ibrani[7]. Dari keterangan pamannya yang tanpa sangsi membenarkan apa yang menimpa suaminya, Khadijah semakin yakin bahwa suaminya tidak gila dan ia sedang menyaksikan sebuah peristiwa besar akan terjadi di depan matanya.
Ketika Rasulullah mulai menyebarkan dakwahnya, Khadijah berada di garis depan dalam membantu dan melindungi Beliau, terutama dengan hartanya. Ia menjadi symbol terpenting dalam sejarah Islam sebagai perempuan pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya. Peran Khadijah sungguh besar. Ia dengan sukarela menghabiskan harta kekayaannya yang melimpah dalam mendukung risalah Rasulullah. Ketika sang Nabi diingkari dan didustakan kaumnya atau bahkan ketika sedang disakiti seperti dilempari batu atau diludahi, Khadijah dengan sabar memeluknya dengan penuh kasih sayang dan menghiburnya dengan segenap hatinya. Khadijah bahkan turut merasakan puncak penderitaan kaum muslimin ketika terjadi masa pemboikotan kaum musyrik Quraisy selama 3 tahun[8]. Rasulullah, beserta orang-orang yang beriman, termasuk Khadijah tinggal di sebuah benteng yang dikucilkan. Pada saat itulah, menjelang dicabutnya embargo ekonomi atas Bani Hasyim yang melindungi Rasulullah, Khadijah jatuh sakit. Khadijah, istri yang paling setia dan disayangi Beliau meninggal. Belum pernah Rasullullah merasa sesedih ketika meninggalnya istri yang begitu dicintainya itu sehingga tahun itu disebut dengan Amul Huzni (Tahun Dukacita)[9]. Khadijah wafat beberapa bulan sebelum peristiwa Hijrah dan dimakamkan di Ma’la, Makkah.
Arti penting Khadijah tentu sudah terang. Pengaruhnya sangat besar di masa awal penyebaran Islam yang penuh penindasan. Selain sebagai pendamping setia sang Nabi, ia juga penyumbang dana terbesar bagi dakwah Beliau. Padahal Khadijah mempunyai alasan kuat meninggalkan Muhammad ketika suaminya pulang pada malam hari dan gemetaran seraya mengaku ada makhluk gaib yang mendatanginya. Betapa tidak, belum pernah ada seorang Arab pun yang berkata seperti itu. Adalah lumrah jika Khadijah lantas bisa saja menganggap suaminya gila, atau terkena halusinasi (seperti kebanyakan para orientalis Barat menuduh). Sulit meyakini ada seorang nabi diutus di tengah-tengah kota padang pasir yang jauh dari peradaban dunia, terpencil dan memiliki peradaban dan pengetahuan yang jauh lebih rendah dari pada orang-orang Yahudi atau Kristen yang menetap di sekitar jazirah Arab misalnya. Tapi tidak demikian halnya dengan Khadijah. Di samping kecintaannya pada Beliau, tanpa berpikir lagi, ia percaya bahwa suaminya adalah seorang Nabi yang membawakan risalah ilahi untuk kaumnya (bangsa Quraisy) dan umat manusia.
Sulit juga untuk membayangkan bagaimana dakwah Islam akan bertahan tanpa bantuan ekonomi dari Khadijah. Memang, sahabat Nabi yang lain seperti Abu Bakar, termasuk juga orang kaya yang membantu Beliau. Tapi kita harus memperhitungkan pula sisi psikologis dan mental Rasullullah di masa awal turunnya wahyu. Betapa Beliau saat itu sangat kebingungan seperti orang gila dan dalam deritanya ini secara instingtif pastilah berpaling kepada istrinya, Khadijah[10]. Bayangkan jika seandainya Khadijah, orang terdekat dan terpercaya Beliau tidak mempercayainya. Dengan dorongannya, terbukti Beliau merasa tidak sendirian, semangatnya terpompa dan semakin terus dengan gigih menyampaikan risalah. Jasa-jasa Khadijah amat mengingatkan Rasullullah akan dirinya. Bahkan suatu ketika Aisyah begitu cemburu ketika Rasulullah terus menyebut nama Khadijah meski telah lama meninggal. Beliau menjawab, “Bagaimana Aku harus melupakannya, karena ketika orang lain mendustakanku, ia lah orang pertama yang membenarkanku.dan ia menolongku ketika tidak ada orang lain yang menolongku.” Tidak salah lagi, Khadijah binti Khuwailid memang merupakan tokoh yang berpengaruh dalam sejarah Islam.
           








[1] Perbedaan pengertian kabilah (suku besar) dan bani (keluarga) dapat dipahami sebagai berikut: moyang A jika dilihat dari keturunannya yang banyak dipanggil dengan kabilah (suku besar) A, tapi jika dilihat dari moyang-moyang yang tingkatannya lebih tinggi di atasnya, maka turunan A itu hanya disebut sebagai bani A atau keluarga A. contohnya Qusay yang bergelar Quraisy bila dilihat daru keturunannya disebut dengan suku besar Quraisy, dan turunannya terdiri dari bani Abdu Manaf, bani Abdu Syam, bani Hasyim, bani Umayyah, dll; yang semuanya tinggal di kota Makkah. Tapi jika dilihat dari tingkatan nenek moyangnya yang lebih tinggi seperti Ghalib atau Fihr, maka turunan Qusay itu bisa disebut dengan bani Quraisy, di samping bani Kaab, bani Adi, bani Taim dll (dinukil dari Joesoeb Syou’b, Sejarah Khulafaul Rasyidin, 1979, Bulan Bintang, hal. 17 (untuk lebih jelas lihat lampiran).
[2] Abdu Manaf adalah ayahnya Hasyim; Hasyim adalah ayahnya Abdul Muthalib; Abdul Muthalib adalah kakeknya Rasulullah.
[3] Syam adalah sebutan bagi orang Arab untuk wilayah Palestina dan Suriah.
[4] Praktik poligami telah lama dikenal di kalangan bangsa Arab, bahkan sebelum datangnya masa kenabian. Barulah setelah hijrah ke Madinah, Rasul melangsungkan beberapa perkawinan. Sebagian besar pernikahan Beliau bersifat politis dan social.
[5] HR. Bukhari, dinukil dari Syaikh Muhammad Said Mursi, Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, 2007, Al Kautsar hal.418
[6] Majnun secara harfiah berarti gila, namun artinya bisa lebih dari itu. Kata “majnun” pastilah ada kaitannya dengan kata “jin”, karena itu majnun bisa juga diartinya dirasuki oleh jin, bahasa umumnya “kesurupan”
[7] Pada saat itu belum ada satupun al Kitab (Taurat dan Injil) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab
[8] Pemboikotan ini termasuk larangan berdagang dan melakukan perkawinan dengan kaum muslimin.
[9] Tahun tersebut disusul dengan meninggalnya Abu Thalib, pelindung Beliau yang paling banyak membantu dakwah Islam, sehingga kesedihan Beliau bertambah. Allah kemudian menghibur dengan peristiwa Isra Miraj.
[10] Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, 2004, Mizan, hal.194

Tidak ada komentar:

Posting Komentar