Khadijah
R.A
(555-619)
|
I
|
a adalah perempuan yang paling
utama dalam sejarah Islam. Ia adalah perempuan yang pertama masuk Islam, yang
pertama membenarkan wahyu Allah ketika turun kepada Nabi Muhammad s.a.w di Gura
Hira; ia termasuk orang-orang pertama yang membantu dan memperjuangkan dakwah
Rasullullah serta menjadi penghibur ketika Nabi menghadapi masa-masa sulit di
awal dakwahnya di
Khadijah berasal dari Bani Asad[1]
dalam lingkup kabilah Quraisy Makkah. Nasab nenek moyangnya bertemu dengan
Qusay, kakek buyut Rasulullah dari garis Abdu Manaf[2].
Perempuan luar biasa ini adalah seorang saudagar perempuan yang mulia dan
terhormat serta kaya raya. Setahun sekali, kafilah miliknya bertandang
ke Syam[3]
dan pada umumnya meraih sukses yang besar. Khadijah sebenarnya telah mengetahui
sosok Muhammad ibn Abdullah yang terkenal jujur, berakhlak saleh dan digelari al
Amin (dapat dipercaya) itu jauh sebelum Beliau bekerja untuknya. Selain itu
paman dan kakek beliau adalah orang terpandang di kota Mekkah.
Muhammad
ketika itu, sebagaimana pemuda Quraisy lainnya, mencari nafkah dengan
berdagang. Namun disebabkan paman yang mengasuhnya, Abu Thalib, kelewat miskin,
Beliau akhirnya menawarkan diri untuk bekerja pada Khadijah. Apalagi, Khadijah,
yang baik di masa Jahiliyah bergelar at Thahirah (perempuan yang selalu
memelihara dirinya) dan Sayyidah Quraisy ini, cukup terkenal sebagai
perempuan yang sangat cakap dalam hal perdagangan. Khadijah lalu mempercayakan
Beliau untuk memimpin satu khafilah ke Syam. Dan betapa terkejutnya
Khadijah, rombongan yang dipimpin pemuda ini, meski baru pertama kali, namun
telah meraup keuntungan yang lebih besar dari biasanya. Semua barang
dagangannya habis terjual, sehingga keuntungannya menjadi berlipat ganda.
Kekagumannya tak berhenti di situ. Dari laporan seorang sahaya yang diutusnya
untuk mengawasi jalannya perdagangan mengatakan, “betapa orang ini
(Muhammad) memiliki karisma. Dia (Muhammad) berdagang dengan jujur, penuh
semangat, pantang menyerah dan sikapnya yang berbudi luhur menarik banyak para
pembeli.”
Khadijah
semakin terpesona oleh kepribadian Muhammad. Ia yang mulanya hanya sekedar
percaya terhadap Beliau perlahan-lahan menaruh hormat dan kagum padanya hingga
akhirnya jatuh cinta. Ia merasa telah menemukan sesuatu pada diri Muhammad yang
tidak ada pada pemuda-pemuda Quraisy lainnya Ia merasakan sebuah cinta kasih
yang luhur. Diam-diam, Muhammad pun terkesan dengan sifat dan kepribadian Sayyidah
Quraisy ini. Setelah mempertimbangkan. masak-masak, Khadijah akhirnya
mengajukan lamaran kepada keluarga Beliau melalui perantara. Saat itu usia
Beliau 25 tahun dan Khadijah 40 tahun (sebelumnya Khadijah telah menikah dua
kali). Tak lama berselang, diadakanlah acara pernikahan yang meriah dan
keduanya amat berbahagia. Rasulullah begitu mencintai istrinya Khadijah. Selama
Khadijah masih hidup, Rasulullah tidak pernah menikah dengan perempuan lain
(monogami)[4]
dan darinya, Rasulullah dikaruniai enam anak, Qasim, Abdullah, Zainab,
Ruqqayah, Ummu Kultsum, dan Fathimah (kedua anak laki-laki Beliau ini meninggal
semua ketika masih kanak-kanak dan hanya keempat putrinya yang tumbuh dewasa).
Namun sebelum datangnya masa Bi’tsah, Khadijah tidak menampak sedikitpun
bahwa suaminya akan menjadi manusia paling agung di dunia.
Khadijah
terbukti menjadi pendamping terbaik Rasullullah. Ketika Allah mengutus Jibril
mendeklarasikan kenabiannya di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan 622, ia lah
yang menghibur Beliau ketika ketakutan dan khawatir telah didatangi oleh syetan
yang telah memaksanya mengulang kata-kata yang didengarnya. Beliau minta
diselimuti. Pada saat itulah dengan yakin Khadijah berkata bahwa itu pastilah
bukan syetan. “bagaimana mungkin syetan akan mengganggumu, padahal Engkaulah
yang selalu menyambung tali silaturahmi, memikul beban orang lain, mengusahakan
sesuatu yang belum ada, dan senantiasa membela kebenaran?”[5]
Ucapannya ini sungguh menenangkan Beliau. Biasanya orang yang mengaku-aku
didatangi makhluk gaib seperti itu dianggap sebagai seorang kahin
(dukun) atau majnun[6].
Tapi tidak dengannya. Ia bahkan mencari informasi dan menanyakan pamannya,
Waraqah ibn Naufal, yang pandai membaca dan mempelajari al Kitab dalam bahasa
Ibrani[7].
Dari keterangan pamannya yang tanpa sangsi membenarkan apa yang menimpa
suaminya, Khadijah semakin yakin bahwa suaminya tidak gila dan ia sedang
menyaksikan sebuah peristiwa besar akan terjadi di depan matanya.
Ketika
Rasulullah mulai menyebarkan dakwahnya, Khadijah berada di garis depan dalam
membantu dan melindungi Beliau, terutama dengan hartanya. Ia menjadi symbol
terpenting dalam sejarah Islam sebagai perempuan pertama yang beriman kepada
Allah dan Rasul Nya. Peran Khadijah sungguh besar. Ia dengan sukarela
menghabiskan harta kekayaannya yang melimpah dalam mendukung risalah
Rasulullah. Ketika sang Nabi diingkari dan didustakan kaumnya atau bahkan
ketika sedang disakiti seperti dilempari batu atau diludahi, Khadijah dengan
sabar memeluknya dengan penuh kasih sayang dan menghiburnya dengan segenap
hatinya. Khadijah bahkan turut merasakan puncak penderitaan kaum muslimin
ketika terjadi masa pemboikotan kaum musyrik Quraisy selama 3 tahun[8].
Rasulullah, beserta orang-orang yang beriman, termasuk Khadijah tinggal di
sebuah benteng yang dikucilkan. Pada saat itulah, menjelang dicabutnya embargo
ekonomi atas Bani Hasyim yang melindungi Rasulullah, Khadijah jatuh sakit. Khadijah,
istri yang paling setia dan disayangi Beliau meninggal. Belum pernah
Rasullullah merasa sesedih ketika meninggalnya istri yang begitu dicintainya
itu sehingga tahun itu disebut dengan Amul Huzni (Tahun Dukacita)[9].
Khadijah wafat beberapa bulan sebelum peristiwa Hijrah dan dimakamkan di Ma’la,
Makkah.
Arti penting
Khadijah tentu sudah terang. Pengaruhnya sangat besar di masa awal penyebaran
Islam yang penuh penindasan. Selain sebagai pendamping setia sang Nabi, ia juga
penyumbang dana terbesar bagi dakwah Beliau. Padahal Khadijah mempunyai alasan
kuat meninggalkan Muhammad ketika suaminya pulang pada malam hari dan gemetaran
seraya mengaku ada makhluk gaib yang mendatanginya. Betapa tidak, belum pernah
ada seorang Arab pun yang berkata seperti itu. Adalah lumrah jika Khadijah
lantas bisa saja menganggap suaminya gila, atau terkena halusinasi (seperti
kebanyakan para orientalis Barat menuduh). Sulit meyakini ada seorang nabi
diutus di tengah-tengah kota padang pasir yang jauh dari peradaban dunia,
terpencil dan memiliki peradaban dan pengetahuan yang jauh lebih rendah dari
pada orang-orang Yahudi atau Kristen yang menetap di sekitar jazirah Arab
misalnya. Tapi tidak demikian halnya dengan Khadijah. Di samping kecintaannya
pada Beliau, tanpa berpikir lagi, ia percaya bahwa suaminya adalah seorang Nabi
yang membawakan risalah ilahi untuk kaumnya (bangsa Quraisy) dan umat manusia.
Sulit juga
untuk membayangkan bagaimana dakwah Islam akan bertahan tanpa bantuan ekonomi
dari Khadijah. Memang, sahabat Nabi yang lain seperti Abu Bakar, termasuk juga
orang kaya yang membantu Beliau. Tapi kita harus memperhitungkan pula sisi
psikologis dan mental Rasullullah di masa awal turunnya wahyu. Betapa Beliau
saat itu sangat kebingungan seperti orang gila dan dalam deritanya ini secara
instingtif pastilah berpaling kepada istrinya, Khadijah[10].
Bayangkan jika seandainya Khadijah, orang terdekat dan terpercaya Beliau tidak
mempercayainya. Dengan dorongannya, terbukti Beliau merasa tidak sendirian,
semangatnya terpompa dan semakin terus dengan gigih menyampaikan risalah.
Jasa-jasa Khadijah amat mengingatkan Rasullullah akan dirinya. Bahkan suatu
ketika Aisyah begitu cemburu ketika Rasulullah terus menyebut nama Khadijah
meski telah lama meninggal. Beliau menjawab, “Bagaimana Aku harus
melupakannya, karena ketika orang lain mendustakanku, ia lah orang pertama yang
membenarkanku.dan ia menolongku ketika tidak ada orang lain yang menolongku.”
Tidak salah lagi, Khadijah binti Khuwailid memang merupakan tokoh yang
berpengaruh dalam sejarah Islam.
[1] Perbedaan pengertian kabilah (suku besar) dan bani (keluarga) dapat
dipahami sebagai berikut: moyang A jika dilihat dari keturunannya yang banyak
dipanggil dengan kabilah (suku besar) A, tapi jika dilihat dari moyang-moyang
yang tingkatannya lebih tinggi di atasnya, maka turunan A itu hanya disebut
sebagai bani A atau keluarga A. contohnya Qusay yang bergelar Quraisy bila dilihat
daru keturunannya disebut dengan suku besar Quraisy, dan turunannya terdiri
dari bani Abdu Manaf, bani Abdu Syam, bani Hasyim, bani Umayyah, dll; yang
semuanya tinggal di kota Makkah. Tapi jika dilihat dari tingkatan nenek
moyangnya yang lebih tinggi seperti Ghalib atau Fihr, maka turunan Qusay itu
bisa disebut dengan bani Quraisy, di samping bani Kaab, bani Adi, bani Taim dll
(dinukil dari Joesoeb Syou’b, Sejarah Khulafaul Rasyidin, 1979, Bulan Bintang,
hal. 17 (untuk lebih jelas lihat lampiran).
[2] Abdu Manaf adalah ayahnya Hasyim; Hasyim adalah ayahnya Abdul
Muthalib; Abdul Muthalib adalah kakeknya Rasulullah.
[3] Syam adalah sebutan bagi orang Arab untuk wilayah Palestina dan
Suriah.
[4] Praktik poligami telah lama dikenal di kalangan bangsa Arab, bahkan
sebelum datangnya masa kenabian. Barulah setelah hijrah ke Madinah, Rasul
melangsungkan beberapa perkawinan. Sebagian besar pernikahan Beliau bersifat
politis dan social.
[5] HR. Bukhari, dinukil dari Syaikh Muhammad Said Mursi, Tokoh-Tokoh
Besar Islam Sepanjang Sejarah, 2007, Al Kautsar hal.418
[6] Majnun secara harfiah berarti gila, namun artinya bisa lebih dari
itu. Kata “majnun” pastilah ada kaitannya dengan kata “jin”, karena itu majnun
bisa juga diartinya dirasuki oleh jin, bahasa umumnya “kesurupan”
[7] Pada saat itu belum ada satupun al Kitab (Taurat dan Injil) yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab
[8] Pemboikotan ini termasuk larangan berdagang dan melakukan
perkawinan dengan kaum muslimin.
[9] Tahun tersebut disusul dengan meninggalnya Abu Thalib, pelindung
Beliau yang paling banyak membantu dakwah Islam, sehingga kesedihan Beliau
bertambah. Allah kemudian menghibur dengan peristiwa Isra Miraj.
[10] Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, 2004, Mizan, hal.194
Tidak ada komentar:
Posting Komentar